Hashtags Bukan Untuk Gaya – Gayaan!

124 Views 0 Komentar

Salah satu tehnik agar status kita di sosial media mudah dicari dan/atau gampang ditemukan adalah dengan menambahkan tanda (‘#’) diawal kata kunci (unik) tertentu, misalnya: #Cleonima, #BisnisOnline, dll. Dalam dunia digital marketing ini disebut Taggar/Hashtag.

Ketika hashtag ini diklik atau diketikkan di kolom pencarian, maka semua postingan yang menggunakan taggar/hashtag tersebut akan dimunculkan. Sebagai contoh, coba klik taggar #Mbrebes_mili <- berikut ini! Pasti seluruh postingan baik berupa tulisan, gambar, atau bahkan video dan suara yang didalamnya ada taggar tersebut akan muncul, siapapun penulisnya.

Penggunaan hashtag/taggar ini pertama kali dipopulerkan oleh Twitter. Tak lama kemudian digunakan oleh Instagram dan akhirnya dipake juga oleh Facebook. Beberapa social media kelas medioker setau saya juga menggunakan hashtag/taggar ini dengan alasan yang sama.

Seiring dengan semakin populernya hashtag/taggar ini, banyak sekali pengguna sosial media seolah-olah berlomba menggunakannya. Gak masalah sih asal ngerti cara pakenya. Problemnya, kebanyakan dari mereka ini tidak tau menahu, alias asal pake asal bikin. Bahkan ada pengguna yang disetiap postingannya membuat taggar baru yang puanjangnya minta maaf. Ganggu bangetlah pokoknya.

Bunda dan sista sekalian, meski tidak memiliki aturan pake yang bisa dibilang baku, tapi ada tiga hal yang biasanya dijadikan acuan oleh para pelaku digital marketing ketika bikin hashtag/taggar:

PERTAMA, Jangan ALAY atau BERLEBIHAN. Saya lebih suka menyebutnya “Jangan NORAK” (baca tulisan ini http://bit.ly/AlayDanNorak). Karena hashtag yang norak itu menggambarkan siapa yang posting. Bikin yang natural aja, lebay dikit bolehlah -> contoh: #CowokGanteng itu adalah Saya =D. Sekarang coba ganti taggar ‘CowokGanteng’ dengan ‘CowokKeceTampanBadai’ kira-kira gimana tuh? atau ‘Cowok_Terganteng_Sejagad’. Pyuhhh …

KEDUA, PENDEK aja tapi NYAMBUNG. Jangan bikin hashtag yang panjang udah gitu gak nyambung pula sama tema. Maksudnya, jangan sampe taggar yang sudah identik dengan tema umum seperti ‘CowokGanteng’ bunda dan sista gunakan untuk tulisan bertemakan politik.

Contoh kasus hashtag gak nyambung sama tema:

“Operasi tangkap tangan yang melibatkan Ketua MA yang kiai dan tokoh partai islam itu, sarat dengan muatan politis. #CowokKeceTampanBadai” Aneh kan!

Karena itulah, biar bunda dan sista nggak ngalamin kejadian ini, riset hashtag/taggar itu penting. Cari dan baca dulu di sosial media tema postingan seperti apa aja yang sering menggunakan hashtag tersebut.

KETIGA, kalau hashtag/taggar itu bener-bener baru, lakukan riset di IG/Twitter dulu untuk mengukur persaingannya, karena di dua sosial media inilah informasi hashtag yang lagi nge-trend saat itu ada (biasanya muncul di kolom ‘Trending Topic’).

Tips bikin hashtag baru itu adalah menggunakan kata-kata unik yang banyak digunakan sehari-hari. Jangan menggunakan istilah antah berantah yang bikin orang puyeng. Langkah berikutnya yang wajib bunda dan sista lakukan adalah mempromosikannya. Kenapa demikian, agar taggar tersebut dikenali. Lucu kalau bunda dan sista bikin hashtag tapi dipake sendiri, yaa ngapain kalau gitu!

Saran saya jangan bikin hashtag/taggar sendiri, apalagi kalau dibuatnya asal-asalan. Cari dan gunakan taggar yang sudah ramai aja, sehingga postingan bunda dan sista bisa cepet ikutan nongkrong di hashtag tersebut tanpa harus promosi dulu. Promosiin taggar/hashtag itu sama susahnya dengan promosi jualan.

Pada bisnis online (terutama di Instagram), penggunaan hashtag/taggar yang tepat (sudah ramai) adalah satu dari sekian banyak faktor yang bisa menaikkan omzet. Tentu saja tetap harus rajin posting -> (coba baca di link berikut http://bit.ly/RajinNyetatus) plus rajin juga menggunakan hashtag tersebut.

Nah, udah tau kan gunanya hashtag/taggar! JADI, mulai sekarang stop bikin hashtag/taggar yang ngasal dan aneh-aneh. Nggak mau kan di bilang alay bin norak!

Pendapat & Opini

%d bloggers like this: