Kenapa Kok Pilih Hashtags Mbrebes Mili?

283 Views 0 Komentar

Mbrebes mili itu istilah dari bahasa jawa yang secara harfiah berarti; keluar air mata tanpa disadari. Istilah tersebut sudah saya dengar sejak saya kecil. Tapi baru bener-bener saya pahami maknanya ketika kuliah. Dosen saya kala itu sering banget menyisipkannya di waktu menyampaikan materi kuliah. Tujuannya sih agar suasana belajar menjadi santai, renyah, tapi tetap serius.

Hal yang sama pun saya lakukan sekarang. Kalau temen-temen mengamati postingan-postingan saya, selalu ada hashtag/taggar #Mbrebes_mili diantaranya. Tujuannya pun juga persis sama, yaitu agar para pembaca postingan saya menjadi lebih santai, renyah, tapi tetap nusuk.

Dan kenapa kok dikasih taggar? Anda bisa mengetahui alasannya disini. Intinya sih penggunaan taggar/hashtag tersebut adalah untuk mempopulerkan artikelnya. Buat temen-temen pelaku dan penggiat Digital Marketing pasti paham tehnik ini.

Balik lagi ke istilah ‘Mbrebes mili’, istilah itu saya pilih untuk menggambarkan sebuah rasa. Bisa jadi rasa sedih, rasa bahagia, atau bisa kedua-duanya. Buat saya sendiri, istilah itu memiliki makna yang dalem banget. Cenderung emosional bahkan.

Saat melakukan riset SEO, istilah itu masih minim persaingan. Meski beberapa orang menggunakannya di sosmed, rata-rata mereka ini alay dan norak abiis. Jarang sekali konten positif yang diwakili oleh hashtag/taggar tersebut. Padahal istilah itu memiliki makna mendalam bagi orang Jawa. Lalu apa sich makna dari istilah Mbrebes mili itu mas?

Agak susah sebenarnya menjelaskannya dengan kata-kata, tapi saya akan coba dengan cara yang berbeda.

Waktu kecil, tepatnya ketika saya di khitan, Mama menatap saya dengan tatapan sendu. Beliau nggak nangis, tapi matanya berkaca-kaca. Kejadian serupa terulang lagi ketika saya diwisuda.

Selang beberapa tahun kemudian, tepatnya ketika saya menikah, kembali mereka memberikan tatapan yang sama, sendu sembari berkaca-kaca. Sedihkah mereka? Mungkin. Bahagia? Bisa jadi. Jujur saja, saat itu saya masih belum bisa memahami apa yang mereka rasakan.

Sampai akhirnya saya mengalami sendiri momen sarat emosi 2 s/d 4 tahun kemudian saat Nesha dan Raka lahir kedunia. Akhirnya saya bisa merasakan apa itu Mbrebes mili! Cukupkah sampai disitu? Ternyata belum.

Mbrebes mili mengajarkan satu hal penting kepada saya, kalau yang dia wakili adalah kesedihan maka itu akan menjadi kesedihan yang teramat dalam. Dan itu ia buktikan ketika Raka harus menjalani operasi hernia diusianya yang masih 3.5 bulan.

Berbagai treatment medis yang harus dia jalani sebelum operasi, membuat saya dan istri harus menanggung kepedihan itu. Kami bahkan sudah nggak mampu lagi untuk nangis melihat jarum infus dan selang yang menancap ditubuhnya. Jangan tanya apa yang kami rasakan ketika mendengar Raka meraung nangis saat suster memasangkan semua alat itu ketubuhnya. Mbrebes mili!

Yang jelas, sedih itu mungkin bisa digambarkan dengan menangis tersedu-sedu. Bahagia mungkin bisa digambarkan dengan tertawa terbahak-bahak. Tapi kalau sedihnya sudah teramat sangat hingga berujung pedih, kalau bahagianya sudah diubun-ubun hingga menjadi haru, atau bahkan kedua emosi itu bercampur aduk menjadi satu secara bersamaan, istilah apa yang kira-kira mampu untuk mewakilinya? Mbrebes mili bukan! 🙂

Pendapat & Opini

%d bloggers like this: